Beauty And A Beat

Believe In Me ∞
Imma Bad Stalker ♥


Stay Humble Stay On The Right Path, Anything Is Possible . Never Say Never ☺ Find Out What's Possible If You Never Give Up Follow Your Dreams, And Don't Let Anyone Stop You And Never Say Never ♥

Status : ∆ Calling Beliebers are stupid in front of me, I'll make you cry like a baby I promise ∆ Beliebers Stronger Than Army ☺


Tagboard
Footprints here!



Credits

Basecode: Shawty Mane~.
Full edit: Kidrauhl ~
Re-Edit by: Swaggy






Status : This's Me. I'm Mutia :) I'm 16 YO and I I Love Someone that Always Make Me Fangirling ♥ Loving the absurd thing. Loving all my friends ;;) that drive me crazy. Much love for ya all :* ♥

TIME



Cinta Pertama Tak Terbalaskan


Pengarang                 : Anisa Safitri
Edittor                       : Mutia Karim
Best Reader             : You :) 

CINTA PERTAMA TAK TERBALASKAN

Kelas VII B. Semoga menyenangkan dan penuh arti untukku,” gumamku saat kutemui sebuah ruang kelas bercat hijau dengan meja-kursi yang tampak rapi, serta lantai kelas yang cukup bersih sehingga siapapun yang memasukinya akan merasa betah dan nyaman, seperti diriku saat ini.
          Hari ini adalah hari pendaftaran ulang masuk SMP Nusa Persada, salah satu SMP favorit di kotaku karena hampir tak pernah absen menempati urutan pertama nilai tertinggi Ujian Nasional se-kabupaten dan ke-tigabelas Propinsi Jawa Tengah. Sungguh merupakan suatu kebanggaan untukku dapat masuk ke SMP ini. Sebab tidak sembarang  siswa yang dapat menaklukan nilai UASBN tinggi untuk dapat menerobos masuk sekolah yang bergelar SSN ini. Ya, aku adalah salah satu siswa yang paling beruntung, menurutku.
          Sementara Om Ardi dan para orang tua yang lain mengurus administrasi, aku dan mereka para siswa calon teman-teman baruku lebih memilih untuk berkeliling gedung sekolah daripada bosan menunggu, disamping agar dapat lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan baru yang berbeda dengan lingkungan SD, lebih luas tepatnya. Saat ku membuka lipatan amplop berisi kertas, tertulis PRASTIAN AFIF ARZIANSYAH. Diterima di kelas : VII B. Aku terdorong untuk mencari kelas baruku sembari sesekali terpana melihat majalah dinding yang terpajang di depan kelas-kelas, bukti kreatifitas para kakak kelasku di sekolah favorit ini. Kubaca satu persatu artikel yang tertera pada mading kelas.

 
          Namun karena asyik membaca, tiba-tiba ‘Duarrrrr !!!!!!’ “Aaaaahhh !!!” teriak seorang perempuan. Tanpa sadar aku menabrak seorang perempuan berjilbab yang agaknya sama sepertiku, mendaftar menjadi calon siswa SMP Nusa Persada. Kami berdua pun jatuh terjerembab. Kulihat buku-buku perempuan itu berserakan disekitarnya. Kuambilkan untuk menebus rasa bersalahku. Aku kembali berdiri dan mengulurkan satu tanganku untuk membantunya berdiri.
           “ Sini kamu, aku bantu,” tawarku padanya. Dia pun tak menolaknya dan kami sempat saling pandang satu sama lainnya. Sepasang mata yang indah.
          “ Itu bukuku,” tuturnya sambil menunjuk buku yang ada di tanganku. Suaranya membuyarkan tatapanku.
          “ Oh tentu, aku minta maaf ya? Tadi aku nabrak kamu. Kamu nggak apa-apa? Adakah yang sakit? Kamu bilang aja sama aku,” ucapku sambil memberikan buku miliknya.
          “ Ok, semua baik-baik aja. Tadi aku cuma kaget. Buat kamu, lain kali hati-hati, ya!” katanya diiringi senyum dan anggukan dariku.
          “ Baik,” lanjutnya “ Abi ku lagi nunggu aku. Senang bertemu denganmu,” katanya sambil berlalu meninggalkanku.
          Sama sepertinya, aku pun menuju Om ku yang telah siap dengan Vario hitamnya. Dan kami pun pulang menuju rumah, mempersiapkan segala sesuatu untuk MOPD esok hari. Dan tanpa kusadari, aku lupa menanyakan siapa nama perempuan berjilbab dengan mata yang indah tadi. Biarlah, namun aku sungguh penasaran dengannya.
***
          “ De, dede.  Bangun, nak! Udah siang tuh. Ayo sana cepat mandi. Kamu harus sekolah,” suara lembut Tante Ira membangunkanku.
          “Nanti, Tan, lima menit lagi, Arzi masih ngantuk,” ucapku sembari enggan membuka mata.
          “Eeehh, hari pertama masuk SMP malah kayak gitu?”
          “Apa, Tan??!” aku langsung terbangun dan ingat hari ini aku telah resmi menjadi siswa SMP. Kulihat jam dinding Narutoku menunjukan pukul 06.05.
          “Iya, Sayang. Ayo cepat sana mandi. Biar tante yang persiapin semuanya,” tawar Tante Ira.
          “Astaghfirulloh, Tante. Harusnya tante mbangunin Arzi dari tadi,” kataku sambil berlari ke kamar mandi.
          “Oalah, udah dibangunin dari subuh ta, Nak. Tapi Dede masih asyik mimpi,” ucap Tante Ira.
          “Iya maaf, Tan!” teriakku dari kamar mandi.
***
          Aku yang mengenakan topi kusan yang berhias, dengan seragam putih dan bawahan pramuka, serta kaos kaki kanan hitam dan kiri putih dengan segera berlari menuju kelasku. Kujumpai banyak siswa yang mengenakan kostum sama sepertiku hendak berbaris seperti semut untuk mengikuti upacara pembukaan kegiatan MOPD yang diselenggarakan selama 4 hari.
          Sesampainya di kelas, aku keluarkan identitas namaku, ARZI yang telah kubuat selama setengah jam dan aku pun memakainya. Ternyata bukan hanya aku saja yang terlambat hari itu, namun seorang perempuan berjilbab, berkulit kuning langsat dengan mata yang besar pun sama sepertiku. Aku pernah melihatnya, dan dia menghampiriku.
          “Kamu Arzi? Yang nabrak aku kemarin, kan?” tanyanya.
          “Iya, kok kamu tau namaku?” tanyaku.
          “Itu yang tergantung di lehermu. Kenalin, Quinsha dari SDN 1 Mangglengan, cukup panggil aku, Sha,” katanya sambil mengulurkan tangan dan melempar senyum untukku.
          “Baik, Sha,”ucapku sembari menjabat tangannya. “Senang berkenalan denganmu. Tapi kayaknya kita udah telat ikut upacara, Sha!” kataku sambil bersiap untuk berlari. Kami pun menuju lapangan.
          Kuikuti upacara dengan hikmat, begitu pula dengan Quinsha. Seorang teman baruku yang ku kenal untuk pertama kali di SMP ini. Satu hal yang kutahu darinya, dia bernama Quinsha. Nama yang indah seperti pemiliknya.
          “Ok adik-adik, gimana tadi PBB-nya? Capek atau gimana?” tanya Kak Putri, salah seorang anggota OSIS kelas IX saat aku dan teman-temanku beristirahat di dalam kelas setelah mengikuti Pelatihan Baris-Berbaris yang cukup melelahkan. Namun, membuat kami semakin mahir dan mantap dalam baris-berbaris.
          “Capek, Ka!” jawab kami serentak.
          “Loh?? Biar capek tapi nyenengin, kan? Asyik lah pokoknya!” sambung Kak Yoni semangat.
          “Iya bener tuh kata Yoni. Oh ya, perlu adik-adik tau, SMP kita ini banyak banget loh prestasinya. And kayaknya nggak pernah absen jadi jawara. Kalo nggak satu ya dua,” tutur Kak Putri.
          “Contohnya apa aja sih, Ka?” tanya Quinsha penasaran.
          “Banyak, contohnya PMR kita, The Bul’s Mania selalu jadi juara umum. Bopaesa-nya juga, TUB dan PBB-nya, karatenya, OSN-nya, LCC Islamnya juga, Story telling Bahasa Inggrisnya, pidato Bahasa Jawanya, astronomi, LCC PKnnya, lomba-lomba kebahasaan lainnya, bola volly, terus badmintonnya, dll deh pokoknya. Belum lagi prestasi dari guru-gurunya. Lengkap banget lah! Hehe,” tutur Kak Putri panjang lebar.
          “Wah, bangga yakin!” kata Isma kagum.
          “Iya dong, oh iya, udah pada kenal aku belum nih? Soalnya kayaknya tadi kita belum kenalan apa, ya??” lanjutnya “Yoni dulu, monggo!” tunjuk Kak Putri.
          “Okeh. Kenalin adik-adik, aku Figia Yoni Pradana kelas IX B. di OSIS aku jadi wakil sekretaris. TTL-ku di Probolinggo, 3 Oktober 1995. Alamatku Jl. Gerilya no.6 Perum Indah Permai blok H. Senang kenalan sama kalian semua. Ada yang ingin ditanyakan?” tanya Kak Yoni.
          “Warna favorit, Ka?” cetus Aby, salah satu teman yang kukenal karena melihat nama identitasnya.
          “Aku suka semua warna, tapi paling nge-fans sama coklat. Warnanya unik & menarik, hehe. Ada lagi?”
          “Lagu favorit?” tanyaku iseng.
          “Bintang, dari Anima,” jawabnya singkat.
          “Udah punya pacar belum, Ka?” tanya Giska, teman se-SD ku yang sekelas denganku.
          “Katanya Agis mau ndaftar tuh, Ka!” ledek Quinsha.
          “Eeehh, iya, aku mbuka pendaftaran buat kacung pembantu ku. Hahaha. Maaf, De. Aku lagi nggak mikirin cewek dulu,” jelas Kak Yoni.
          “Cukup sekian, ya? Sekian dari kakak, mohon maaf & makasih. Tinggal kamu, Put!” lanjutnya.
          “Okeh. Siang adik-adik, kenalin, aku Putri Hanafi Salma kelas IX A. Aku lahir di Bandung, 15 Maret 1995. Aku tinggal di Puriraja, RT 03/02. Warna favoritku ungu. Makanan favoritku semur daging. Salam kenal ya, adik-adik? Oh iya, aku di OSIS jadi wakil ketua OSIS,” terang Kak Putri.
          “Nomor sepatu, Kak?” tanya Reza, teman sebangkuku. Sungguh pertanyaan yang konyol, menurutku.
          “40, hehe. Cukup, ya? Sekarang giliran kalian, kakak belum kenal, sih?” kata Kak Putri.
          “ Ya, dimulai dari kamu, yang pake kacamata,” kata Kak Yoni sambil menujuk seorang perempuan yang duduk di samping kanan Quinsha. Anak itu pun segera maju ke depan kelas dengan penuh semangat.
          “Hai teman-teman, kenalin aku Inay Yanvika Calista Hasibuan. Aku alumni SDN 4 Lanji Timur, disini aku bareng sama Elcy. Aku lahir di Jakarta, 1 Januari 1997. Alamatku Jl. Otto Iskandar no.17. Itu alamat asli, loh. Bukan alamat palsu, hehehe. Salam kenal, oh iya aku Katolik,” jelasnya rinci.
          “Udah pernah pacaran belum?” tanya Nino jahil.
          “Iya udah, hehe,” jawab Yanvika singkat.
          “Mapel yang paling disukai?” tanyaku bosan.
          “Biologi,” jawabnya lagi.
          “Motivasi kamu masuk SMP ini, sih apa?” tanya Galih.
          “Dari dulu emang pengen masuk kesini. Pramuka sama OSN-nya bagus,” jawab Yanvika.
          “Okeh, Yanvika cukup. Sekarang kamu tunjuk satu cowok buat kenalan. Yang lain, mana nih tepuk tangannya buat Yanvika?” kata Kak Yoni semangat.
          “Dia,” tunjuk Yanvika pada seorang laki-laki berkulit gelap. Mungkin pigmen kulitnya terlalu banyak. Yanvika pun duduk kembali ke kursinya.
          “Teman-teman, aku Hildan Fauzi dari SDN 1 Lokajaya. Alamatku di Jl. Otto Iskandar no.2. TTL-ku di Banyumas, 17 Mei 1997. Aku paling suka liat Detective Conan. Cita-citaku pengen jadi Menteri Negara,” tutur Hildan. Aku pernah bertemu dengannya saat mengikuti lomba murid teladan tingkat kecamatan. Dan dia berhasil menduduki juara 2 dan aku berada di atasnya. Sekarang kami sekelas dan sebagai pertanda agar aku lebih hati-hati agar aku dapat mempertahankan nilai tinggiku.
          “Band favorit?” tanya Irdan
          “Aku suka Ungu & J’Rock Star. Udah dulu lah, cukup dariku. Maaf atas kurang lebihnya, makasih and babaiy!” tuturnya sambil diikuti tawa dari teman-teman karena tingkah lucunya.
          “Kamu berikutnya,” sahut Kak Putri sambil mengarahkan telunjuknya kearahku. Aku kurang suka dengan penunjukan karena tidak melatih siswa untuk berani dan percaya diri. Aku pun memulai perkenalanku pada teman-teman baruku.
          “Siang guys. Kenalin aku Prastian Afif Arziansyah, cukup dipanggil Arzi aja. Aku alumni SDN 1 Omnia. Aku lahir di Banyumas, tepatnya di  RS. Kenanga Permai tgl 15 Februari 1997. Aku tinggal sama Om dan Tante Ardi di Jl. Kenanga Jati no.4, tepatnya di depan Masjid Agung Al Falah. Nggak  jauh dari sini, kok. Kalau mau mampir silahkan, pintu rumahku selalu terbuka buat siapa aja kecuali orang gila. Warna favoritku hijau. Lagu favoritku Jaga Slalu Hatimu dari Seventen. Motivasiku masuk kesini karena udah impian dari dulu. Makanan favoritku telur puyuh kecap manis bikinan tante aku. Tante Ira tuh jago masak banget, masterchef di rumahku. Aku paling suka mapel PKn & Fisika,” terangku panjang lebar. Tiba-tiba Quinsha mengangkat tangan pertanda akan bertanya.
          “Kenapa sih  kamu tinggal sama Om dan Tantemu, nggak sama ayah ibu kamu?” tanyanya.
          “Mereka udah ada di syurga, sejak 4 tahun yang lalu,” jawabku.
          “Oh, maaf, Zi. Aku nggak tau kalau....”
          “Ok tenang aja sama aku,” jawabku enteng.
          “Cita-cita and hobby kamu apa?” tanyanya lagi.
          “Cita-citaku pengen jadi Kapolri, hobbyku mbaca buku sama ndengerin musik. Tapi sering berimajinasi juga, hehe,” jawabku garing
          “Arzi udah punya cewek belum?” tanya Yanvika centil.
          “Udah,” jawabku bohong.
          “Ok cukup, perkenalan yang baik Arzi,” kata Kak Putri.
          “Ok guys, sekian dulu dariku, mohon maaf bila ada kesalahan. Terimakasih atas perhatian kalian, salam kenal,” aku menutup perkenalanku.
          “Sekarang kamu tunjuk cewek buat perkenalan selanjutnya,” kata Kak Putri diiringi telunjukku yang mengarah pada Quinsha, karena aku penasaran dengannya. Dia pun maju ke depan sembari melempar senyum manisnya padaku. Aku pun membalas senyumnya.
          “Assalamu‘alaikum teman-teman. Disini aku mau ngenalin siapa aku ke kalian. Namaku Prastitania Quinsha Nindya. Kalian bisa panggil aku sesuka kalian, asal jangan bikin aku sakit hati, tapi kebanyakan pada manggil aku, Sha. Tempat lahirku di Solo, tanggal 15 Februari 1998. Tanggalnya sama kaya tanggal lahir Arzi. Sekarang aku tinggal sama abi umiku di sebuah rumah kecil kompleks Perum Gloria Makmur blok C. Aku alumni dari SDN 1 Mangglengan. Warna favoritku biru. Makanan favoritku balado telor bikinan umi, enak banget. Tapi aku paling anti sama sea food and buah durian, soalnya aku alergi sama itu, hehe. Aku paling suka sama pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Agama. Motivasiku masuk sini karena aku pengen nunjukin aku juga mampu bersaing di sekolah impianku ini. InsyaAllah aku bisa, ada pertanyaan?” tawarnya. Kulihat banyak teman yang mengangkat tangannya, pertanda banyak yang ingin mengenal Quinsha lebih dekat termasuk aku.
          “Apa prinsip hidup kamu?” tanyaku saat giliranku bertanya tiba.
          “Aku megang prinsip berpikirlah sebelum bertindak dan jadilah dirimu sendiri, nggak usah niru-niru orang lain. Selain itu juga harus selalu belajar dan berdoa, kata umiku. InsyaAllah sukses, aku juga lagi nyoba.” Terangnya. Sungguh jawaban yang cocok untukku dan membuatku nyaman mendengarnya. Dia menyukai warna biru, seperti almarhumah ibuku yang telah tiada. Cara bicaranya, senyumannya, matanya, tidak ada yang terbuang. Atau jangan-jangan.... Ah, tidak mungkin Quinsha jelmaan ibuku. Kurasa aku mulai menyukainya, dari tingkah lakunya sampai kepribadiannya. Oh, Tuhan.. Aku kasmaran!
          Dia juga telah membuktikan bahwa dia mampu bersaing dengan teman-teman yang lain, dia menjadi siswa favorit MOPD tahun ini. Nilai-nilai evaluasinya pun dapat menjadi bukti bahwa dia adalah siswa yang pintar dan cerdas. Dia juga aktif dalam kegiatan ROHIS sekolah, Sanggar Bahasa dan PMR. Sedangkan aku hanya mengikuti Karate, KIR, Pramuka dan Sanggar Bahasa. Namun satu hal yang aku tak suka darinya, yaitu kadang dia cuek dan jutek. Ya, teman yang aneh.
***
          Tak terasa sudah enam bulan aku menjalani aktivitasku sebagai siswa SMP Nusa Persada dan juga bersama teman-teman baruku, bersama Quinsha tentunya. Banyak hal lagi yang kutahu darinya.dia menyukai Doraemon karena kulihat tas, buku dan tempat pensilnya bergambar kartun robot kucing masa depan yang hanya sebatas khayalan semata itu. Dia juga pernah menuturkan padaku bahwa dia menyukai Naruto, sama sepertiku. Dan aku merasa dia adalah sumber semangat dan motivasi, serta inspirasi bagiku, sebab semenjak aku mengenalnya, nilai-nilai dan prestasiku melesat jauh karenanya. Terbukti beberapa hari yang lalu ketika pengumuman peringkat paralel dipasang, kudapati nilai UAS 1 ku mandapat peringkat 1 kelas dan 1 paralel. Sedangkan Quinsha berada di bawahku, yaitu peringkat 3 kelas dan 7 paralel. Peringkat 2 kelas diraih oleh Hildan. Ingatanku pun kembali mengenang dua hari yang lalu ketika istirahat sekolah, kulihat dia habis ke musholla. Untuk shalat sunah dhuha mungkin, aku pun menghampirinya.
          “Kamu nggak jajan? Habis shalat dhuha, yah?” tanyaku penasaran.
          “Enggak, insyaAllah aku puasa sunah Senin Kamis. Iya, aku habis dhuha. Kamu gimana, and nggak dhuha?” tanyanya padaku.
          “Oh, enggak. Tadi di kantin rame banget, aku liat kamu disini, hampir setiap hari waktu istirahat,” jawabku.
          “Anu kebiasaan dari kelas 6, hehehe. Oh iya, kamu mau kemana?” tanyanya lagi.
          “Aku mau ke perpus nih, mau ngembaliin buku. Sama niatnya mau pinjam buku lagi, mau ikut?” tawarku.
          “Ke perpus? Okeh, aku sekalian mau pinjam buku. Ayo?!” ajaknya semangat.
          “Oh iya, kamu rangking berapa di kelas and paralel?” tanyaku pura-pura tak tahu, sambil berjalan di sampingnya. Jujur, aku senang sekali bisa mengajaknya dan berjalan berdua dengannya ke perpustakaan.
          “Aku rangking 3 kelas, paralel 7. Kamu sama paralel rangking 1 yah? Hebat yakin, kok bisa? Gimana sih caranya?” tanyanya padaku.
          “Ya belajar, nyampe materi masuk. Paling asyik kalo sambil ndengerin musik, loh?? Hehe, selain itu kita njadiin seseorang yang kita suka supaya jadi motivasi and semangat buat kita melangkah ke depan,” jawabku.
          “Hah? Masa suka sama seseorang, sih? Hayooo, siapa tuh??” tanyanya lagi.
          “Ada deh, hehe,” jawabku.
          “Wah, orang itu pasti beruntung banget yah. Disukai cowok tajir kaya kamu, yah?” tuturnya.
          “Ah kamu bisa aja, aku yang seharusnya beruntung banget kalo nyampe aku bisa ndapetin dia. Udah pinter, rajin, cantik, alim, ramah, sopan, senyum and matanya itu¸ loh. Bikin aku mati gaya! Ups, sorry curhat. Hehe,” kataku.
          “Ok lah, nyante aja kali. Wah, wah, Arziansyah lagi kasmaran. Sama siapa tuh?” ledeknya padaku.
          “Ada deh, kamu juga boleh. Hehe,” candaku sambil mencari buku Tragedi Supersemar setelah sampai di perpustakaan.
          “Loh, masa aku sih?? Enggak  banget kali,” katanya sambil tersenyum dengan diikuti oleh lesung pipinya yang menawan. Membuatku tak berdaya! Hehe.
          “Ciiee... Cowok jenius dan cewek jenius lagi PeDeKaTe, prikitew!” kata salah seorang teman kami, bernama Dion dari kelas 7G. Suaranya yang besar membuat puluhan mata tertuju pada kami. Akibatnya, kami pun saling tersipu malu. Andai Quinsha tahu perasaanku padanya, aku tertusuk panah asmaramu. Aku jatuh cinta padamu, Prastitania Quinsha Nindya. Semoga kau merasakannya dan mempunyai rasa yang sama denganku.
***
          “Kalau itu nggak ngganggu belajar kamu, toh apa salahnya kamu nyatain yang sebenernya ke dia Zi,” saran Reza ketika aku curhat tentang perasaanku pada Quinsha, suatu hari saat sedang mengerjakan tugas kelompok di rumahnya.
          “Aku belum berani, Za. Aku takut kalo nanti aku ngganggu belajarnya. And aku juga belum siap mental kalo dia nolak aku, Za,” tuturku.
          “Kayaknya enggak, tuh? Dia juga keliatannya suka kamu. Percaya, deh sama Arya Arreza Pratama. Hehe, tapi yo wis, terserah njenengan, ” kata Reza diiringi dengan Quinsha, Fibyan, Ayu seusai shalat dhuhur.
          “Ngobrol apa, sih?? Asyik banget kayaknya. Eh iya, monggo kalian shalat dulu. Tugasnya udah nyampe mana?” tanya Quinsha.
          “Ini, nih. Halaman 32 tolong dikoreksi lagi, terus kalian ngerjain yang halaman 36 sama 40, yah? Sorry  kebanyaken, hehe,” perintahku pada mereka.
          “Okeh ketua. Bisa diatur, wani piro??” ledek Fibyan padaku karena jabatanku di kelas adalah sebagai ketua kelas, dengan meniru gaya khas Sule.
          “Eeeh, nggak usah kali. Ada pendampingnya inih! Hahaha,” sambung Ayu.
          “Hah? Siapa tuh?” tanyaku dan Quinsha berbarengan.
          “Ah biasa, yang suka warna biru and ijo tuh  mikirnya kelamaen, lolaaa... hehe,” kata Fibyan. Aku dan Quinsha pun terdiam, bingung dan masih mencerna perkataan-perkataan mereka.
          “Kenapa diem?” sambung Reza.
          “Eh, engga engga,” kataku dan Quinsha bersamaan lagi.
          “Wah wah, njawabnya bareng terus. Kok bisa, sih? Kalo udah jadian kasih kabar and jangan lupa makan-makannya, yah?” ucap Ayu. Dan barulah aku dan Quinsha mengerti maksud mereka.
          “Apa-apaan sih kalian? Mbokan ada yang cemburu, itu tuh, ceweknya ketua. Hehe,” sahut Quinsha.
          “Eeeehh, aku belum punya cewek ato pun pacar, tau!” kataku.
          “Lhah trus dulu yang waktu kenalan? Waktu ditanya Si Yanvika?” tanya mereka padaku.
          “Aku bohong, weeeee.. haha. Kalian percaya aja,” tawaku riuh.
          “Eeehh, deneng  malah pada main-main? Sana shalat dulu!!” perintah Quinsha.
          “Enggih, Ndoro ayu,” ledekku dan Reza padanya.
          Setelah selesai mengerjakan tugas kelompok, kami pun pulang ke rumah masing-masing. Fibyan dan Ayu telah di jemput oleh sopir pribadi Fibyan, karena rumah mereka berdekatan. Kini tinggal aku dan Quinsha yang sedang kebingungan untuk pulang ke rumah karena terhalang hujan deras dan cuaca yang tidak bersahabat, serta petir yang menggelegar bersama guntur yang menyakitkan telinga bagi siapa saja yang mendengarnya.
          “Kalian pinjem sepedaku aja. Kebetulan ada boncengannya,” tawar Reza pada kami.
          “Tapi ngembaliinnya?” tanyaku
          “Bisa diatur, daripada nunggu reda, kan nggak tau kapan. Mending kalian pulang naik sepedaku aja. Rumah kalian sejalur and bisa sepedaan, kan? Kamu Arzi mboncengin Si Quin, gimana?” tanyanya.
          “Ya udah lah, daripada nunggu,” sambung Quinsha.
          Akhirnya kami harus menerobos hujan yang dingin dengan sepeda. Aku cukup senang atas tawaran Reza. Namun, entah dengan Quinsha. Ku kayuh perlahan sepeda milik Arya Arreza Pratama tersebut, sedangkan Quinsha yang membonceng dibelakangku hanya bernyanyi dan bersenandung kecil. Lama-kelamaan, aku pun ikut terbawa nyanyian tersebut. Lagu milik Seventen yang berjudul Tak Terkira. Sebuah momentum yang sangat indah dan tak terlupakan, untukku tentunya.
          “Zi, ada yang nge-fans sama kamu, loh?” katanya tiba-tiba.
          “Iya? Siapa? Kamu, yah?” tanyaku penasaran
          “Yeeee, bukan atuh. Inisialnya Y, kemarin habis olahraga aku liat Yanvika nulis di bukunya Afif Love Vika. Kayak gitu, sama aku tak ledek sekalian, hehe. Priktitew!” godanya padaku.
          “Kamu nggak cemburu? Haha,” kataku meledeknya
          “Iiihh, apaan yah. Aku sih siapanya kamu deneng  disuruh cemburu?” tuturnya.
          “Temen,” jawabku singkat.
          “Nah, itu tau. Gimana seneng enggak, ditaksir Yanvika? Dia cantik loh, pinter juga iya,” katanya.
          “Ah kamu apa-apaan, sih. Aku tuh nggak  suka sama Yanvika, percaya deh!!” kataku kesal.
          “Ya jangan marah dong, Zi. Cuma kayak gitu inih. Okeh aku percaya sama kamu,” katanya meyakinkan.
          “Sha, gimana sih perasaan kamu waktu kita pertama ketemu and kenal kenal sama aku? Jawab jujur, yah?” tanyaku tiba-tiba.
          “Kenapa sih deneng  nanya kayak gitu?” jawabnya. Aku menunggu jawaban lama darinya.
          “Enggak,  Cuma pengen tau aja. Gimana, Sha?” tanyaku lagi.
          “Iya, aku seneng aja, Zi. Soalnya sifat sama kepribadian kamu tuh kayak Kak Fredit, kakakku. Kan dia sekarang kuliah di UGM, jadi jarang ketemu. Pulang paling-paling cuma seminggu sekali, kamu tuh mirirp banget sama Kak Fredit. Apalagi kalo lagi ketawa, senyum, ngliat and  ngledek aku,” tuturnya panjang lebar.
          “Kenapa sih?” lanjutnya.
          “Oh enggak, cuma nanya. Ya udah, aku mau kok jadi kakak kamu?” ucapku serius.
          “Halah, ngomong apa sih  kamu? Kamu tuh Arzi, temen aku. Selamanya ya tetep Arzi,” katanya
          “Kamu tuh  asyik juga yah anaknya. Nyenengin, bisa di ajak ngobrol, kerja sama, beruntung yakin bisa kenal sama seorang Prastitania Quinsha Nindya. Hehe,” tuturku tulus.
          “Wah, kamu hafal banget nama aku. Aku jadi ngrasa terbang, nih. Hahaha,” katanya malu-malu.
          “Hahaha,” tawaku gurih.
          “Eeeh, Sha, kamu tau banyaknya titik-titik hujan yang turun sekarang?” godaku.
          “Enggak, Zi. Emang  kenapa?” tanyanya tak mengerti.
          “Sebanyak itulah rasa syukur and beruntungku bisa kenal kamu,” godaku lagi.
          “Ah kamu bisa aja. Gombal!” tuturnya.
          “Gombal apa gombal? Hehe,” ledekku.
          “Tau ah,” katanya singkat. “Sok romantis,” gumamnya lirih.
          “Apa, Sha?” tanyaku karena suara Sha yang terhalang suara gemericik air hujan yang turun.
          “Oh, bukan apa-apa,” jawabnya.
          Selepas itu, kami pun diam sepanjang perjalanan. Dan tak terasa sampailah kami di depan sebuah rumah bercat biru muda yang agaknya itu adalah rumah Quinsha di kompleks perumahan Gloria Makmur blok C.
          “Makasih banget ya, Zi. Maaf udah ngrepotin, yuk mampir dulu? Kamu basah kuyup tuh,” katanya seusai turun dari sepeda.
          “Enggak lah, makasih. Kapan-kapan aja, udah sore sih. Ya udah aku pulang dulu, Sha. Salam buat umi abimu. Dadah babaiy, assalamu’alaikum!” pamitku padanya.
          “Waalaikumsalam, iya insyaAllah tak sampein. Kamu hati-hati, Zi, jalannya licin. Pulang ke rumah langsung mandi terus pake jaket and selimut biar anget,” teriaknya sambil melambaikan tangan.
          “Okeh, Sayang,” kataku lirih, namun masih dapat di dengar.
          “Apa?” teriaknya lagi.
          “Enggak, aku pulang dulu,” kataku sambil berlalu.
          Kini aku tahu yang sebenarnya, dia menganggapku sebagai seorang kakak. Baiklah, walau dalam hati aku sungguh tak puas. Namun, aku senang karena telah mendapat satu tempat di hatinya yaitu sebagai seorang kakak.
***
          “Cukup lah! Cukup, jangan nglempar cicak itu ke aku!! Tolonglah, teman-teman! Iiih, kalian jahat banget ke aku! Ke Arzi juga dong yang lagi ulang taun, jangan ke aku! Umi, tolong!” ucap Quinsha ketakutan dan sembari berlari saat Reza mengambil cicak kecil di jendela kelas saat istirahat tiba. Kulihat matanya berair karena takutnya pada reptil dinding yang mungil  itu dan dia hampir menangis.
          “Ini nglatih kamu supaya nggak takut lagi sama cicak. Ayo, sini, aku mau ngucapin selamat ulang taun ke kamu,” kata Reza didukung tawa puas dan anggukan dari teman-teman sekelas.
          “Nggak mau!! Cicaknya dibuang dulu! Arzi, tolongin aku dong!!” rengeknya padaku. Aku yang tadinya hanya duduk diam sambil asyik membaca buku Biologi dan sesekali tersenyum melihat kejahilan teman-teman pada Quinsha pun sekarang ada rasa untuk membelanya.
          “Ayo ketua, tolongin permaisurinya?!” cetus Giska jahil diikuti tawa teman-teman lain.
          “Iya tuh, yang lagi ulang taun berdua,” sambung Abby.
          Akhirnya aku meminta cicak tak berdosa itu dari tangan Reza, dan kulepaskan ke jendela kembali. Dan saat ku berbalik, teman-teman menyambutku dengan tepuk tangan riuh yang membisingkan telinga. Kami pun tersenyum puas dan bahagia, dan terdengar alunan lagu Selamat Ulang Tahun yang khusus dipersembahkan untukku dan Quinsha. Kami berdua pun tak henti-hentinya memancarkan rona merah pada pipi. Ah, 7B yang asyik!!
***
          Hari ini adalah daftar ulang dan pembagian kelas baru untuk siswa yang naik kelas, setelah sebelumnya dua minggu yang lalu diadakan perpisahan dan pelepasan kelas 9 yang cukup mengharu-birukan. Selamat jalan kakak-kakakku, sampai jumpa di lain kesempatan, salam sukses untuk kalian semua. Untuk pertama kalinya aku dan teman-teman se-angkatan merasakan menjadi senior tingkat 2 di SMP ini. Dan inilah peluang bagiku untuk mengisi hari-hari indah dan pengalamanku di SMP. Namun sayangnya, aku tak bersama teman-teman 7B ku dulu, tidak dengan Quinsha tentunya karena ada pengacakan kelas. Aku di kelas 8F bersama Irdan, Yanvika, Reza, Ayu, Irgi dan Listi. Sedangkan Quinsha berada di kelas 8D bersama Hildan, Nino, Fibyan, Elcy, Lintang dan Sevi. Sangat disayangkan, menurutku. Namun, program sekolah berkata lain. Kami 7B harus berpisah.
          Sudah empat bulan kami merasakan masa-masa kelas 8. Kegiatannya sungguh padat dan mulai diadakan beberapa lomba serta ulangan tengah semester ganjil yang baru seminggu yang lalu diselenggarakan. Inilah kesempatan emas bagiku. Meskipun aku dan Quinsha berbeda kelas, namun perasaanku belum pudar, dan masih tetep sama seperti dulu, bahkan bertambah dari sebelumnya, aku merasa dia mulai menyukaiku seperti yang aku harapkan dari dulu. Namun, sikapnya aneh padaku akhir-akhir ini. Dia terlalu jutek padaku, akupun tak tahu apa penyebabnya. Biasanya setiap ada masalah dia selalu bilang ke aku, namun kali ini, entah mengapa sikapnya dingin padaku. Namun aku tidak menanggapi hal tersebut, karena aku pun sibuk dengan kegiatanku sendiri. Sebagai contoh, minggu ini aku harus berlatih untuk membawakan berita bersama Zaka 8A, karena ada lomba kebahasaan untuk menyambut hari Sumpah Pemuda, karena bulan ini adalah bulan bahasa. Begitu pula dengan Quinsha, dia diikutkan untuk menjadi wakil sekolah dalam lomba musikalisasi puisi, bersama Revan 8G.
          Zi, bnr kta kmu, klo qta sneng ssorg nilai qta naik. Tuturnya melalui sms.
          Mksd km? Balasku.
          Iy, ky gt lah. Ak rank 2 kls & 4 par. Tnx so for ur solution ! :)
                   Ooo, ok lh, ur welcome. Ngmg2 lg kasmaran nh yee?! ;)) sm sp tuh. Tanyaku penasaran.
          Add dh, mo taw ajj. Hhe. Gmn kbar? Kngen nh sm ledekan2 mu n 7b dluu. Ak eng (blm) btah di 8d yqn. Oiya, skrg ak dh resmi jd angg OSIS. Gmn kmu? Tanyanya.
          Alhm baik. Sm qw jg. Mgkin blm kenal. Km jd OSIS? Wah slmt lh, mg jd OSIS yg baik. Hehe, qw jg kngen sm km, sm 7b jg. Jawabku.
        Zi, app bnr kmu pcrn sm Yanvika? Jadian kpn? Wah slmt y, mg langgeng
                   Hey hey. Km kt sp Sha? Fitnh tuh. qw eng pcrn ngg. Tuturku.
          Ynvka ngmg sndri k ak. M2mnya dong.
                   Qw ngg pcrn. Sumph!!!! Eeh km bsok add acra ngg? Qw mtta wktunya sbntar. hehe
                   Iy eng ush sumph2an mas? Ok bsok ak free. Mng add app? Tanyanya.
          Add dh, bsok jg tau sndri. Rhs pkoknya. Temui qw di 7d abs plng skul. Slm bwt umm abb mu. Kataku.
          Ok insy, eng slm bwt ak nh? Hhe :D ledeknya
          Yylhah, blh jg. Dh dlu y, dadah babaiy. Mmmuakh! :* godaku.
          HAAAAH???!!!! Jgn smbrgn! Mmmuakh app.an. huuh :@  dia marah di seberang sana.
          Aku sudah bulat dengan tekadku untuk menyatakan perasaanku pada Quinsha esok hari. Namun sebelumnya, aku penasaran ada apa dengan Yanvika berkata begitu pada Quinsha dan teman-teman yang lain. Jelas itu fitnah, aku tak pernah suka apalagi cinta padanya. Hal ini mendorongku untuk mengirimkan sms padanya.
          Ynvka ap mksd km ngmg ke quin klo qt tuh pcrn. App app.an km? Tanyaku kesal.
          Hy prince, gmn kbar? Kngen nh. Tumben sms, kngen sm vika yh? Tanyanya diseberang.
          Jwb prtnyaanku !!!!! bentakku kasar.
          Iih qk prince mrah2in vika sh. Vika ga ngmong app2 ke nindya. Bneran!!  Katanya.
          Bohong. Vika yg cntik n imut, yg baik, tlg yyah. Qw mtta tlg bnget. Jgn nyebarin fitnah lah. Qw ngg suka ngg sm km. Qw udah punya cwe. Jdi maaf yya vika manis. Bsok pkoknya km hrus mtta mf k smua tmn2 yg udah km bohongin. Qw ngg mau tau. Kataku memuntahkan amarahku padanya.
          Vika ga mw mnta mv ! vika tuh syank arzi, vika pngen arzi jd cwonya vika. Plis, trma vika. Vika cinta arzi dri pertma ktmu dlu wkt MOPD. Vika mhon. Rengeknya di seberang sana. Aku sendiri pun kaget, ada cewe yang menyatakan cintanya pada cowo.
          Tp qw ngg syg n cnta km. Maaf, ng qt bsa ttp tmenan, tlg jgn ganggu khdupan arzi n quin. Ktanya vika syg arzi, arzi harap vika ngerti. Ucapku.
          Ok klo itt mau prince. Maafin vika zi. Tp vika ga mw mnta mv k quin. Bwt app.
                   Terserah lah. Uddah ngg usah di bahas. Mtt sore! Jawabku kesal. Aku pun ingin memberitahukan hal ini pada Reza, pakar psikologis bagiku. Dia selalu memberi jalan keluar untuk setiap masalahku. Semoga kali ini dia dapat membantuku.
          Qw mau nembk bsok mlh qw mti gara2 fitnahnya ynvka. Hadeeeh. Ucapku.
          Oiiy, ktnya mu dh jdian? Tga bgt mu. Ksian tuh quin nindyanya. Kku ga stju bggt bggt bggt mu pcrn sm vika. Putusin ga?! Harus!!! Omelnya.
          Jgn pke emosi brew. Qw ngg tau app2 bneran. Qw dh ngmg n nyuruh vika mtta maaf k quin, mlh dy ttp ngg mau. Gmn nh, qw syg bggt sm quin. Ynvka ngmg kppn, za? Tuturku.
          Bsok mu ngmonk sbnernya ajj k quin, eh tapi bneran kn kalian ga pcrn? Dia ngmonk 8 hri yg llu. Reza meragukanku.
          Bneran za. Plis km prcya sm qw. Truss gmn tuh temen2 yg dh tau kbar miring ituu? Cemasku.
          Beres kalo add akang Reza. Hahaha. Tnang ajj, tp klo jdi mkn2 y? Imbalan oiiy, ledek Reza.
          Siip lah, tp klo ngg? Tanyaku.
          Hruz jdi. Oiiya, aty2 mu saingannya bnyak looh. Ktnya Arkha 8a, lg dket sm quin, Ofa 8e jg. Smgt bbos! N jangan nyampe ganggu bljr mu!! Mu tuh pinter. Jdi tlg jgn amp lupa bagi wktu, yo?! Sarannya padaku.
          Ok kang !! kataku mengakhiri smsn ku dengan teman-teman sore itu.
***
          Aku sudah menunggu Quinsha di 7D selama 15 menit. Dan Quinsha pun datang menemui ku.
          “Ada apa sih, Zi? Kayaknya  penting banget,” tanyanya.
          “Aku pengen ketemu kamu aja, kan kangen udah empat bulan nggak ketemu. Oh ya, aku boleh tanya?” tanyaku
          “Silahkan?” jawabnya.
          “Kamu kok  akhir-akhir ini udah jutek banget ke aku? Kenapa sih? Aku nggak  tau salah aku apa ke kamu, kamu kenapa?” tanyaku. Kulihat, raut wajahnya berubah menjadi murung ketika kutanya demikian.
          “Aku... aku... aku nggak mau jadi orang ketiga yang dicap ngrusak hubungan kamu sama Inay Yanvika Calista Hasibuan! Kamu kok nggak bilang kalo udah jadian! Tega kamu, makanya setelah tau kalian jadian, aku langsung jaga jarak sama kamu! Maaf ya, aku nggak tau jadi dan aku juga nggak mau persahabatan antara Yanvika dan aku kandas gara-gara aku!” terangnya.
          “Perlu berapa kali lagi aku ngomong ke kamu, aku nggak pacaran sama Yanvika! Terserah kamu mau percaya ato enggak sama aku!” jelasku.
          “Tapi nyatanya???!!!”
          “Enggak!! Aku nggak suka sama Yanvika, aku tuh.. akuu.. aku suka sama kamu, Quinsha Nindya. Aku jatuh cinta sama kamu dari pertama kita bertemu. Aku pengen  dapet tempat di hati kamu, bukan sebagai kakak, ato temen ato sahabat. Aku pengen nyurahin perhatiannya aku ke kamu, lebih. Aku pengen njaga kamu. Kamu yang udah bikin hati aku takluk, kamu yang udah bikin aku mengerti arti cinta untukku. Dulu aku belum terlalu berani dengan perasaanku, karena aku masih fokus ke pelajaran. Tapi aku mohon, semua itu karena aku sayang kamu, Sha. Aku harap kamu ngerti,” tuturku padanya. Jujur, aku grogi mengatakannya. Namun kupaksa lidahku agar tidak kelu saat mengatakannya. Dan perasaanku, aku telah memuntahkannya bak volcano berapi yang memuntahkan magmanya. Kulihat pipinya memerah, Quinsha diam seribu bahasa. Samakah perasaannya padaku? Ataukah tidak sama sekali? Ayo lah Quinsha, katakanlah bagaimana perasaanmu padaku. Aku cukup menunggu dengan sabar.
          “Sebenernya, sebenernya aku juga punya rasa yang sama kayak kamu, Arzi. Aku nunggu kamu ngucapin ini, dari dulu. Sebab aku tau, cewek nggak mungkin nembak cowok duluan. Aku  juga suka kamu, cinta sama kamu dan aku sayang banget sama kamu. Tapi itu sebelum aku ndenger kabar entah nyata ato enggak, yang pasti kabar itu aku jadi ragu, nggak percaya, aku langsung pupus. Dan kayaknya aku jadi benci sama kamu. Maaf aku ngomong kayak gitu. Aku sayang kamu,” tuturnya kemudian. Kugenggam tangan dinginnya, kuletakan di depan dadaku, agar dia tau bagaimana aku saat itu.
          “Sekarang, kamu mau enggak jadi pacar aku? Nilai-nilaiku naik semenjak aku ngenal kamu. Tolong, Sha? Aku bener-bener sayang kamu,” ucapku akhirnya.
          “Aku pengen kita jadi temenan kaya dulu, Zi.  Aku pengen kamu jadi kakak aku, bukan pacar aku. Maaf Zi, aku nggak bisa. Aku harap kamu ngerti, terus gimana sama Yanvika? Kamu juga suka sama dia kan?” tanyanya. Hatiku bagai burung yang kehilangan sayapnya dan bagai kaca yang hancur berkeping-keping saat mendengar ucapannya.
          “Aku nggak suka sama Yanvika, sumpah! Demi kamu! Aku sayang banget sama kamu, Quin. Tolong kamu ngerti, kasih aku kesempatan lagi. Aku akan mbuktiin kalo aku sayang kamu,” genggamanku makin kuat.
          “Buat aku bangga, buat aku tersenyum. Aku sayang kamu, Arzi. Baiklah, makasih banget kamu udah suka and sayang sama aku,” katanya sambil tersenyum padaku. Pupuslah sudah harapanku. Tapi biarlah, meskipun aku hanya bisa menjadi kakaknya, tapi dia memiliki rasa yang sama sepertiku. Aku sayang kamu Prastitania Quinsha Nindya, dari lubuk hatiku yang terdalam.

***
          Semenjak kejadian itu, aku menjadi jarang bertemu dengan Quinsha. Dia pun menjadi semakin dingin padaku. Aku sudah tak sering melihatnya tersenyum. Kabar terakhir yang kudengar, dia telah berpacaran dengan Arkha. Seorang cowok tampan, pintar dalam bermusik, anak band, drummer tepatnya, yang telah menaklukan hatinya. Selamat kawan, kau pantas mendapatkan Quinsha. Buatlah dia bahagia, buatlah dia tersenyum. Dan perasaanku, aku masih tetap menyayanginya, meskipun dia tidak memilihku. Dia pun telah meninggalkan lara yang sungguh menyakitkan di hatiku. Quin ku, sepertinya aku terlalu sayang padamu. Kau lah yang terindah, selalu terindah dan tetap terindah di hatiku. Kau lah cinta pertamaku, Quinsha Nindya.
          Sampai suatu hari, ketika aku tengah asyik membaca di perpustakaan seorang diri. Tiba-tiba datanglah seorang yang tak asing bagiku, Quinsha bersama Arkha tentunya.
          “Arzi,” sapanya padaku.
          “Eeehh kamu, Sha,” kataku.
          “Lagi baca apa nih, kuperhatiin asyik banget dari tadi,”
          “Iya, Sha. Aku ikut lomba OSN, Dua hari lagi maju ke propinsi. Kamu pinjem buku?” tanyaku
          “Wah, hebat kamu. Semangat and selamat yah? aku ndukung kamu, bawa nama baik SMP kita. Aku nganter Arkha pinjem buku nih,” katanya sambil tersenyum padaku.
          “Okeh lah, kamu juga ikut LCC Islami kan? Juara berapa?” tanyaku.
          “Alhamdulillah nggak dapet juara 1. Kita mentok juara 2 aja,” jawabnya sedikit kecewa.
          “Oh iya, seminggu lagi LCC PKn loh, kamu udah siap and udah belajar belum?” tanyaku.
          “InsyaAllah, aku siap. Hehe, semoga kita bisa lah ya?” katanya.
          “Iya,” katanya singkat.
          “Tan, ayo. Aku udah dapet bukunya nih,” tiba-tiba suara Arkha membuyarkan percakapan kami.
          “Okeh, ya udah aku duluan, Zi. Assalamu’alaikum,”
          “Iya, wa’alaikumsalam,” jawabku.
          Itulah percakapan terakhirku dengan Quinsha. Sekarang aku mulai sedikit bisa melupakan Quinsha dan semakin fokus pada pelajaran dan kegiatan, serta lomba-lomba di kelas 8. Dan inilah ajangku untuk mengukir kemampuanku, begitu pula dengan Quinsha yang sekarang telah bahagia dengan Arkha. Namun aku turut bahagia, karena aku dapat membuatnya tersenyum dan bangga. Kamu yang pertama hadir di hatiku. Namun, kini aku telah merasakan cinta, meskipun itu bertepuk sebelah tangan.  Cintaku pertamaku tak terbalaskan.
***

Label: